Sunday, September 03, 2006

KONSISTENSI dan BRANDING PRIBADI

Good News Trans TV hari Jumat, 1 September 2006, satu jam sebelum dialog dengan Kongress KM ITB. Ada sesuatu yang membuat saya gembira luar biasa. Salah satu temanku, Sano, Teknik Lingkungan angkatan 2000 yang baru saja merampungkan sidang sarjana Juli 2006 kemaren sedang di wawancara oleh kru Good News karena ’tingkahnya’ yang konsisten untuk memperjuangkan kepedulian terhadap lingkungan. Lewat unit yang didirikannya ”U Green” dan beberapa aktivitas lain, beberapa kegiatan peduli lingkungan yang bertajuk ’Kebunku [CMIIW] dilaksanakan dengan mentargetkan siswa SLTP.

Konsisten, itulah yang menarik dari Sano. Bulan Juni lalu, ketika menjelang sidang, saya pernah bertanya, apa yang akan dilakukan setelah lulus? Dia menjawab bahwa 2 samapi tiga tahun ini saya akan berjuang dalam sebuah LSM untuk memperjuangkan kepedulian lingkungan.
Sementara itu, di sisi lain, saya tahu [tahu ya, bukan kenal] banyak aktivis di ITB, yang setelah lulus tidak diketahui kemana aktivitasnya, apa yang dilakukan, dan bahkan tidak konsisten dengan apa yang diperjuangkan dikampus. Kenapa? Mungkin karena banyak aktivis di kampus yang merupakan aktivis karbitan [ saya tidak mau menyebut diri saya aktivis, karena kalo saya aktivis, saya termsuk aktivis yang karbitan], yang menurut saja apa yang telah ’diputuskan’ oleh sebuah struktur yang diketahui saja tidak, seperti ’gembong’ [berdasarkan asumsi pribadi, belum dicek kebenarannya].

Menurut Fathi, sahabat yang sedang beraktivitas sebagai Ketua UPT Kaderisasi Salman [semoga bukan aktivitas karbitan], bahwa idealisme itu akan selalu terbawa oleh seorang aktivis, seperti apapun lingkungannya nanti. Kenapa dia tidak terlihat saat ini? Karena dia belum menemukan muara untuk meng’eksis’kan diri, tetapi segala aktivitas pasti mengarah kepada idealisme yang dia dukung. Kalau tidak kelihatan sekarang, tidak masalah, kita tunggu saja, 20 atau 30 tahun lagi, bukankah segala sesuatu butuh proses?

Ternyata komentar seperti itu muncul juga dari salah satu calon ahli fisika filosofis, kalo saya boleh menyebutnya seperti itu, Fakhrul Razi. Mahasiswa akan selalu ada dengan idealismenya, meskipun sudah bukan mahaiswa lagi. Aktivitasnya juga akan kurang lebih sama dengan apa yang dilakukan di dalam kampus. Dia mencontohkan, Farid misalnya, sekiranya dia sudah bekerja di suatu tempat pun, agenda ’rekruitmen’ akan selalu ada, bahkan Farid suau saat akan menjadi ’Head Hunter’ kelas satu [maaf kalo berlebih-lebihan].

Hm.., semoga yang disampaikan Fathi dan Fakhrul benar, karena mereka berbicara msih berdasarkan asumsi [masih bisa ditoleransi, karena yang mengeluarkan pernyataan yang pertama juga berdasarkan asumsi].

Anyway. Untuk Sano, saya melihat bahwa anda sudah membangun ’branding’ diri anda sebagai sosok peduli lingkungan dari sekarang. Semoga apa yang anda perjuangkan bisa berhasil dan anda tidak merasa ’lelah’. Ditunggu kiprahnya 20 tahun lagi sebagai menteri lingkungan hidup RI. Selamat berkarya!!

amircool

6 comments:

benx said...

keren bos tulisannya..

btw baru nemu nie link ke blog baru, moga moga sekrang lebih konsisten ma blog baru, sebagai bagian dari branding pribadi #halah, bahasa gw..hihihi#

salam bos =)

amircool said...

hehehehe
tengkyu bos..
blog nt saya link ya

fiksi said...

woy mir, postingan kita kali ini temanya sama!!! tetapi yang membedakan cuman gigitan bahasanya! hahaha...

Lucky said...

saya kok nggak sepakat ya kalo digunakan istilah 'personal branding'. kesannya komersial..;-D. lebih baik kalo citra diri (eh sama aja ya?). Soalnya kalo branding konotasinya itu 'untuk dijual', dan bisa-bisa ntar di-rebranding, alias berubah 'idealisme'nya, kalo kata mas amir.
btw, tulisan yang bagus.

fEBRi said...

wah gitu ya mir.. emang idealisme itu harus ditunjukkan dengan sebuah "branding". gimana klo yang dipegang itu idealisme nya saja..nah klo udah kaya gitu maka apapun nanti bidang yang di lakoni, maka tetap akan menjadi orang yang konsisten..

Sakura said...

Tatkala idealisme membakar dada ada gejolak dalam jiwa, satu hal yang perlu diwaspadai adalah konsistensi.

Layaknya aku