Monday, November 26, 2007

Start from Harlem

“Black Friday. The Day for Shopping”

Harlem adalah salah satu kawasan berbahaya di New York. Mayoritas dihuni oleh warga negara kulit hitam. Jangan coba-coba memasuki kawasan Harlem pada malam hari, jika tidak mempunyai wajah sangar.

Kami memulai hari itu dengan makan siang di kawasan Harlem, tidak tampak berbahaya, biasa saja. Cuma keliatan berbeda jika dibandingkan dengan China Town di New York. Aktivitas ekonomi disini tampak biasa-biasa saja, terlihat tidak bergairah.

Dari Harlem, perjalanan ke Metropolitan Museum dilanjutkan dengan Subway, transaksi karcis untuk 6 kali perjalanan dilakukan dengan mesin elektronik, self service yang membuat nyaman penumpang karena mesinnya sangat efisien sehingga tidak banyak terbuang untuk antri tiket misalnya, lagipula satu tiket kereta bisa digunakan untuk menggunakan kereta subway jurusan manapun, sesuai dengan keinginan.

Museum Metropilitan sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan, saya selalu membandingkan dengan keadaan negeriku yang musiumnya keliatan payah untuk menghidupi sendiri, apalagi sekedar untuk menerik pengunjung sebanyak-banyaknya. Sepertinya tingkat pendidikan menjadi salah satu isu terkait dengan keinginan untuk mengunjungi museum.

Masuk museum di NY gratis, tempatnya nyaman dan dikelola secara professional. Karena Amerika tidak mempunyai sejarah yang merentang ribuan tahun, maka beberapa item yang disodorkan dibawa dari Negara lain, baik itu benda asli maupun replica. Kita dapat menemukan kuil mesir yang asli disini, ataupun peninggalan seni Islam, lukisan, fotografi dan juga beberapa benda kesenian kontemporer. Selian itu, disalah satu bangsal berjendela kaca yang tepat berhadapan dengan Central Park, berdiri sebuah tiruan kuil di Mesir, lengkap cacatnya dan sesuai ukurannya.

Dari Musium, dengan menggunakan semacam bus, kami menuju ke tengah kota New York. Ternyata, tiket yang saya beli distasiun kereta bisa digunakan untuk membayar ongkos. Saya tidak pernah menjumpai hal semacam itu. Hal itu menunjukkan betapa transportasi kota NY juga di kelola dengan sangat baik, semua pembayaran terintegrasi.

Tujuan ke tengah kota malam itu hanya satu, mengunjungi Rockefeller Center, tapi kami menyempatkan juga mampir ke beberapa toko, misalnya GUCCI hanya sekar melihat-lihat, toko barang elektronik dan tentunya TRUMP TOWER. I want to meet Donald Trump, but it seems he is busy and I don’t have time to wait him, because I am busy too, haha.

Kami tidak mencoba untuk menaiki menara Rockefeller, hanya menikmati beberapa teguk Starbucks, but someday I definitely will reach the top of this building, like I definitely will reach the top in my life.

amircool

__apartemen Raleigh__

6.12 pm

3 comments:

amircool said...

ceritanya keren, rajin-rajin posting yah... kalo bisa lebih ada muatannya, masa mau menulis tanpa ada point yang di tonjolkan sih.... mana bukti intelektualnya?

ridwan kosan said...

mas, masa' foto dengan latar statue of liberty kelewat? enggak kan. Belom dipublish mungkin ya.

(sotoy mode on)Itu kan simbol harapan akan hidup lebih baik di tanah baru lho. (sotoy mode off)

amircool said...

kemaren lom sempat kesana coy! ntar desember mau kesana lagi, satu hari, demi patung liberty