Wednesday, May 14, 2008

Go Green dengan Teknologi

Suhu bumi semakin panas, kadar CO2 meningkat, bahan bakar minyak bumi semakin langka dan melonjak harganya. Bagaimana teknologi informasi bisa ikut andil dalam perbaikan lingkungan?

“Drive Less, Live More” adalah salah satu motto yang mudah ditemui beberapa tempat Cisco Campus. Motto itu mengajak semua orang untuk mengurangi berkendara dengan mobil dengan memperbanyak bekerja di rumah, dengan cara ini konsumsi bahan bakar dan polusi bisa dikurangi dan pada akhirnya turut membantu melestarikan lingkungan.

Banyak sekali tools yang bisa digunakan seseorang agar tetap produktif dirumah dan menyelesaikan pekerjaan. Email dan instant messenger telah menjadi tools yang biasa digunakan. Koneksi ke internal site perusahaan untuk menyimpan data atau mengunduh data internal dengan VPN telah menjadi hal yang biasa di kalangan korporasi besar.

Tergantung dari tingkat kepentingannya, kadang kala dibutuhkan kolaborasi interaktif antar manusia dalam perusahaan atau antar perusahaan secara realtime. Email tidak bisa menjawab kebutuhan akan kolaborasi secara realtime. Instant messenger bisa membantu kolaborasi secara realtime, akan tetapi kurang interaktif, apalagi jika menggunakan aplikasi gratisan yang kadang kala pesan tidak tersampaikan. Memang kita bisa menggunakan fasilitas video atau suara di messenger, aplikasi video hanya bisa dilakukan antar dua orang, tidak bisa antar banyak orang.

Telepresence merupakan teknologi yang bisa membantu kolaborasi secara interaktif dan realtime. Dengan layar monitor yang besar, berkualitas, desain ruangan dan meja yang tepat, seseorang bisa berdiskusi dengan orang lain serasa tanpa jarak, artinya, meskipun meeting atau kolaborasi dilakuan antara Indonesia dan Amerika misalnya, semua perserta meeting akan merasa berada dalam satu ruangan. Selain tersedia dalam ukuran besar, saat ini ada appliance Telepresence yang berukuran kecil yang diperuntukkan untuk perusahaan kecil dan menengah (SMB) dengan harga yang terjangkau.

Cisco WebEx (sebelumnya adalah WebEx, sebelum perusahaan ini di akuisisi oleh Cisco) bisa menjadi salah satu alternative kolaborasi secara realtime melalui jaringan internet. Biaya berlangganan cukup murah. Dengan Cisco WebEx mengharuskan tiap peserta memiliki nomer telepon yang didedikasikan untuk koneksi ini. Dengan tool ini kita bisa mempresentasikan slide dari power point atau dokumen lain, saling menatap muka dan bicara dan tentunya dilengkapi juga dengan instant messaging . Meeting dengen Cisco WebEx bisa di rekam, sehingga seseorang yang berhalangan hadir bisa mendownload rekaman dari WebEx server ataupun mengkopi filenya dari rekan yang menghadiri rapat.

Hampir semua orang tentunya mengenal game online. Saat ini ada layanan semacam itu yang ditujukan untuk kolaborasi. Layanan yang bernama Second Life ini telah menarik korporasi-korporasi besar untuk mencoba menggunakannya. Dalam Business Week, disebutkan perusahaan sekelas IBM, Sun, Xerox, Cisco Systems dan Unilever yang karyawannya tersebar di banyak negara masih dalam tahap awal penggunaan Second Life sebagai sarana kolaborasi. Pada bulan September 2007, Xerox menggunakan Second Life untuk menghadirkan 20 karyawannya yang sedang keluar kota untuk menghadiri 2007 International Women's Conference di Rochester, N.Y secara virtual.

Di Second Life, setiap orang mendapat profil lengkap dengan perwakilan animasi 3 dimensinya (tentunya harus di edit dahulu agar representasi pengguna di Second Life bisa menggambarkan keadaan real di dunia nyata). Di Second Life, pengguna bisa masuk ke sebuah pulau dan melakukan seminar, ceramah, presentasi (dengan audio dan slide presentasi) bahkan simulasi untuk kedokteran. Kalau di dunia nyata kita tidak bisa terbang, di second life kita bisa terbang, selain itu bisa juga menggunakan isyarat tubuh misalnya mengangkat tangan jika ingin mengajukan pertanyaan, tertawa, tidur dan beberapa isyarat tubuh lainnya.

Ujicoba penggunaan Second Life untuk sarana kolaborasi CSAP (Cisco Sales Associates Program) beberapa waktu lalu di Cisco Campur RTP (Research Triangle Park) belum menampakkan hasil yang memuaskan. Peserta dari Amerika dan Belanda menghadiri kata sambutan dari Scott Brown, VP World Wide Sales Enablement, merasakan kualitas suara masih belum bagus, terpotong-potong.

Semua teknologi kolaborasi jarak jauh tentu ada kelemahan dan kelebihannya, hanya tinggal perngguna saja merasa nyaman dan senang menggunakan teknologi yang mana. Karena yang paling penting, adalah pesan tersirat yang ada dalam penggunaan teknologi ini. Jadi apakah anda salah satu orang yang ingin mengadopsi teknologi ini dan siap untuk Drive Less, Live More?

amircool, ST, CCNA, CCDA, CCNP, CCDP
apartemen raleigh

*gambar diambil dari Cisco dan BusinessWeek